Halo semua!
Berkat sebuah Notes di Facebook dari sahabat saya, Ekawati Erprisman, saya jadi terpacu untuk ikut menulis atau lebih tepatnya mencurahkan apa yg ada di benak seorang Annisha yg telah genap 20tahun hidup dan bergumul dengan kehidupan.
Kalau eka menulis tentang flashbacknya 20th kebelakang (ups..saya ga maksut memberi tahu umur mu ya, ka. Upss apa saya malah mempertegas? Hahaha) mmm..saya memilih untuk lebih membicarakan tentang 20th kedepan dengan sedikit menengok kebelakang lah : )
Bukannya saya mau meramal tentang nasib saya sendiri ya, karena saya bukan pembaca masa depan seperti mama laurent ataupun ki joko bodo :P
Jangan kan baca masa depan, untuk bisa membaca karakter diri sendiri saja, susahnya setengah hidup.
Baiklah fokus fokus!. Jadi yg sebenarnya ingin saya bicarakan adalah tentang: "mau jadi apa sih sebenarnya saya ini". Bukan bertransformasi seperti mutan atau sejenisnya ya (oke, garing!)
tapi lebih ke : "hmm..saya sudah memasuki tahun ke 20 dalam hidup. gimana yah kira-kira 5th saya kemudian? Apakah saya akan tersenyum dalam balutan blazer khas seorang pegawai kantoran. Dimana mapan, cemerlang, idaman adalah kata-kata yg cukup pantas menggambarkannya.
Ataukah saya tanpa ekspresi bermalas-malasan disudut kamar membaca tumpukan komik usang masa lalu demi menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, kemudian tinggal mengadahkan tangan kepada orangtua meminta sejumlah dana untuk 'menghibur' seorang kesepian yaitu diri saya sendiri"
Duh option yg kedua jangan sampe kejadian dong : (
Sebenarnya bukan hanya 2 option itu aja sih, tapi ada banyak sekali kemungkinan yg sempat terbesit ketika saya sedang diam, merenung dan sedang 'sadar' seperti saat ini.
Tapi untuk mengutarakannya, nampaknya sulit karena begitu banyak dan begitu abstrak.
(alaah bilang aja males ngetak ngetiknya yakan?)
Balik lagi ke notes eka. Di akhir notesnya ada beberapa kalimat yg saya suka :
"Itulah proses hidup, terus berputar dan harus dijalani".
Setuju, saya setuju!
Hidup eka!
Hidup eka!
emm.. bagi duit dong ka! (loh loh)
Saya jadi ingat di suatu malam, saat sedang menghabiskan waktu bersama sahabat di masa kecil saya, kak hutri namanya..
Di pelataran halaman rumahnya, saat itu saya masih berseragam putih biru.
Kami berdua membicarakan tentang masa depan. Bagaimana keinginan saya untuk dapat berbangga hati mengenakan yellow jacket khas mahasiswa Universitas Indonesia, lalu degup jantung saya terpompa lebih cepat membayangkannya.
Kemudian waktu berputar dan saya sedang duduk di sebuah kelas 11 Ipa 3, berbincang bersama teman-teman seperjuangan saling berdiskusi tentang kampus impian, dan dengan menggebu-gebu saya mengutarakan keinginan untuk menjadi salah satu dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Dan sekarang saya berkaca, dengan almamater hijau tua, berlogo STIE Perbanas.
Yap! inilah saya saat ini. Hahahahah..
Hmm.. mungkin segala angan saya tentang kampus impian itu ga ada yg terwujud.
Tapi saya coba melihat titik terangnya, setidaknya saya masih bisa berbangga hati mengenakan almamater yg menandakan, Alhamdulillah.. saya masih bisa melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa, tingkatan tertinggi dari level pendidikan.
Dan sekarang, saya harus kembali fokus seperti janji saya di awal perkuliahan dimana saya harus lulus setidaknya sesuai prosedur S1 yaitu 4 tahun. Saya punya tanggung jawab selain terhadap kedua orangtua serta pada diri sendiri.
Bolehlah saat ini saya jenuh, saya bimbang memikirkan APA YANG AKAN TERJADI NANTI?
Tapi saya ga boleh terus-terusan terpaku dgn kedua hal tsb. Bisa-bisa saya hanya akan jadi seorang Loser yg jalan ditempat.
Entahlah tentang masa depan.
Mumet, njelimet, bahkan saya malas baca ulang tulisan ini karna banyak kata baku yg terkesan mendikte (tuh kan. jadi mau mu apa sih, nish?)
Tapi setidaknya, nanti saya di masa depan (umm..hallo :D ) bisa melihat rangkaian kata di blog ini entah dengan senyum-senyum dan membatin sendiri :
"apalah kau cakap ni, nish! Macam penulis tak kesampaian saje"
(mengapa jadi melayu begini, datuk? :P )
atau malah berkaca-kaca ku dibuatnya?
Baiklah, Future...
entah bagaimana pun rupa mu nanti..
Yg pasti sekarang saya mau belajar melukis dulu..
Agar nantinya kau semakin indah dikenang..
Annisha
13 Maret 2010 : )
13 Maret 2010
10 Maret 2010
lekas dilihat, lekas saya simpan :)
Dia paling benci sayap ayam
entah itu sudah digoreng kering, dibumbui dengan racikan ala kolonel sanders nan menggoda
tak berpengaruh
Dia tetap benci.
Dia tidak romantis
tidak pernah bisa melihat waktu, dimana aku berharap bisa dibuai sejuta kata" asmara
tapi selalu membuat ku terkaget-kaget saat tiba" ia menarik ku untuk berdansa ditengah alunan melodi cayman island, dipenghujung sore sehabis hujan..
Dia setengah mati sangat cuek
tidak pernah tau apa alasan aku tiba-tiba diam dan mengacuhkannya
tapi dia setengah mati melakukan segala cara untuk bisa membuatku kembali tersenyum padanya, walaupun tetap ia tidak tau apa kesalahannya dihari itu
ia tulus berkata: "maafkan aku..aku menyayangimu"
dan aku setengah mati menahan air mata entah kesal atau lega mendengarnya, karna aku juga setengah mati menahan rindu dan ego untuk tidak menggubrisnya seharian penuh
Dia aneh dan menjengkelkan!
selama beberapa waktu aku tahan berjuta perasaan yg bercampur jadi satu, kemudian ku bertemu kembali dengan sosoknya yg bisa dalam hitungan detik membuat rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuh,
dia malah memasang muka konyol
kemudian melingkarkan pengganjal horden ke kepala dan bergaya khas sesosok pahlawan lokal dan berkata dengan suara berat (atau diberat-beratkan): "SAYA..SI BUTA DARI GUA HANTU"
ingin sekali ku jitak kepalanya!
tapi ku malah mendaratkan 1 kecupan dipipinya yg bulat dan kami menghabiskan waktu dengan saling menertawakan diri sendiri.
dalam hati dan pikiran yg teramat konyol, aku bahkan membatin ke diri sendiri: "AKU MAU JADI MONYET YG SETIA PADA SI BUTA. ASAL SELAMA ITU AKU BISA TERUS BERADA DISAMPINGMU"
ternyata kebodohan bisa menjalar rupanya :P
Dia pecinta musik, dan alunan suara, distorsi, reverb, delay, echo dan berbagai istilah asing lainnya untuk aku seorang awam
Dia penikmat Radiohead, Sigur Ros, Explossion in The Sky, Thom Yorke, Heinrich Manuver dan berjuta musisi jenius lainnya
yg membuatku minder akan pengetahuannya yg luas
bahkan ia bisa menjadi sesosok pribadi yg berbeda saat berbicara soal idealisme dalam bermusik
telinganya dapat menangkap dengan baik bunyi-bunyian yg tak terdengar sama sekali bagiku
sementara aku bermain dengan lirik, ia berkonsentrasi dengan instrumen
sungguh kekonyolannya menghilang drastis dikala ia bercengkrama dengan yg namanya musik.
Dia punya bakat alami dalam mendesign
yg membuatku jengkel dan cemburu buta dengan PCnya yg bisa semalaman suntuk beradu pandang dengan kejernihan matanya
tapi dipagi hari setelah melihat satu lagi karya nya sehabis berautis ria dengan adobe, corel, dan sejenisnya,
yg tumbuh malah rasa bangga karna lagi-lagi kutemukan kejeniusannya yg lain :)
Aku memang yg pertama kali menggenggam erat tangannya, merangkul lengannya, mencium pipinya
semua kulakukan ditengah orang banyak
padahal aku pasif dalam mengutarakan ekspresiku dalam mencinta
tapi sungguh, aku bangga memilikinya
Hihihi..aku masih geli sampai detik ini, mengingat tangannya gemetar menyuapiku disudut restoran di pejaten village
"Ini pertama kalinya untukku.." gumamnya
tanpa dia sadari, dia pun menjadi yg pertama dalam banyak hal untukku..
masa depan memang masih gelap, tapi dua senter yg masing-masing kami genggam, akan membimbing kami ke sebuah sumber cahaya yg disebut kebahagiaan
dua senter yg melambangkan harapan itu, kami namakan Aurora dan Alpha..
dua hal yg membuat degup jantung saya berpacu lebih cepat, lebih kuat dan bersemangat menyambut hari esok, lusa, dan esok setelah lusa
disamping seorang Derry Ramadhan, impossible adalah suatu kata yg tidak mungkin
Selalu ada harapan
Harapan ku saat ini
Selalu bersama dengannya, selama mungkin, senyaman mungkin..
Amien :-)
entah itu sudah digoreng kering, dibumbui dengan racikan ala kolonel sanders nan menggoda
tak berpengaruh
Dia tetap benci.
Dia tidak romantis
tidak pernah bisa melihat waktu, dimana aku berharap bisa dibuai sejuta kata" asmara
tapi selalu membuat ku terkaget-kaget saat tiba" ia menarik ku untuk berdansa ditengah alunan melodi cayman island, dipenghujung sore sehabis hujan..
Dia setengah mati sangat cuek
tidak pernah tau apa alasan aku tiba-tiba diam dan mengacuhkannya
tapi dia setengah mati melakukan segala cara untuk bisa membuatku kembali tersenyum padanya, walaupun tetap ia tidak tau apa kesalahannya dihari itu
ia tulus berkata: "maafkan aku..aku menyayangimu"
dan aku setengah mati menahan air mata entah kesal atau lega mendengarnya, karna aku juga setengah mati menahan rindu dan ego untuk tidak menggubrisnya seharian penuh
Dia aneh dan menjengkelkan!
selama beberapa waktu aku tahan berjuta perasaan yg bercampur jadi satu, kemudian ku bertemu kembali dengan sosoknya yg bisa dalam hitungan detik membuat rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuh,
dia malah memasang muka konyol
kemudian melingkarkan pengganjal horden ke kepala dan bergaya khas sesosok pahlawan lokal dan berkata dengan suara berat (atau diberat-beratkan): "SAYA..SI BUTA DARI GUA HANTU"
ingin sekali ku jitak kepalanya!
tapi ku malah mendaratkan 1 kecupan dipipinya yg bulat dan kami menghabiskan waktu dengan saling menertawakan diri sendiri.
dalam hati dan pikiran yg teramat konyol, aku bahkan membatin ke diri sendiri: "AKU MAU JADI MONYET YG SETIA PADA SI BUTA. ASAL SELAMA ITU AKU BISA TERUS BERADA DISAMPINGMU"
ternyata kebodohan bisa menjalar rupanya :P
Dia pecinta musik, dan alunan suara, distorsi, reverb, delay, echo dan berbagai istilah asing lainnya untuk aku seorang awam
Dia penikmat Radiohead, Sigur Ros, Explossion in The Sky, Thom Yorke, Heinrich Manuver dan berjuta musisi jenius lainnya
yg membuatku minder akan pengetahuannya yg luas
bahkan ia bisa menjadi sesosok pribadi yg berbeda saat berbicara soal idealisme dalam bermusik
telinganya dapat menangkap dengan baik bunyi-bunyian yg tak terdengar sama sekali bagiku
sementara aku bermain dengan lirik, ia berkonsentrasi dengan instrumen
sungguh kekonyolannya menghilang drastis dikala ia bercengkrama dengan yg namanya musik.
Dia punya bakat alami dalam mendesign
yg membuatku jengkel dan cemburu buta dengan PCnya yg bisa semalaman suntuk beradu pandang dengan kejernihan matanya
tapi dipagi hari setelah melihat satu lagi karya nya sehabis berautis ria dengan adobe, corel, dan sejenisnya,
yg tumbuh malah rasa bangga karna lagi-lagi kutemukan kejeniusannya yg lain :)
Aku memang yg pertama kali menggenggam erat tangannya, merangkul lengannya, mencium pipinya
semua kulakukan ditengah orang banyak
padahal aku pasif dalam mengutarakan ekspresiku dalam mencinta
tapi sungguh, aku bangga memilikinya
Hihihi..aku masih geli sampai detik ini, mengingat tangannya gemetar menyuapiku disudut restoran di pejaten village
"Ini pertama kalinya untukku.." gumamnya
tanpa dia sadari, dia pun menjadi yg pertama dalam banyak hal untukku..
masa depan memang masih gelap, tapi dua senter yg masing-masing kami genggam, akan membimbing kami ke sebuah sumber cahaya yg disebut kebahagiaan
dua senter yg melambangkan harapan itu, kami namakan Aurora dan Alpha..
dua hal yg membuat degup jantung saya berpacu lebih cepat, lebih kuat dan bersemangat menyambut hari esok, lusa, dan esok setelah lusa
disamping seorang Derry Ramadhan, impossible adalah suatu kata yg tidak mungkin
Selalu ada harapan
Harapan ku saat ini
Selalu bersama dengannya, selama mungkin, senyaman mungkin..
Amien :-)
Langganan:
Postingan (Atom)
13 Maret 2010
dan kita bicara tentang suatu masa..
Halo semua!
Berkat sebuah Notes di Facebook dari sahabat saya, Ekawati Erprisman, saya jadi terpacu untuk ikut menulis atau lebih tepatnya mencurahkan apa yg ada di benak seorang Annisha yg telah genap 20tahun hidup dan bergumul dengan kehidupan.
Kalau eka menulis tentang flashbacknya 20th kebelakang (ups..saya ga maksut memberi tahu umur mu ya, ka. Upss apa saya malah mempertegas? Hahaha) mmm..saya memilih untuk lebih membicarakan tentang 20th kedepan dengan sedikit menengok kebelakang lah : )
Bukannya saya mau meramal tentang nasib saya sendiri ya, karena saya bukan pembaca masa depan seperti mama laurent ataupun ki joko bodo :P
Jangan kan baca masa depan, untuk bisa membaca karakter diri sendiri saja, susahnya setengah hidup.
Baiklah fokus fokus!. Jadi yg sebenarnya ingin saya bicarakan adalah tentang: "mau jadi apa sih sebenarnya saya ini". Bukan bertransformasi seperti mutan atau sejenisnya ya (oke, garing!)
tapi lebih ke : "hmm..saya sudah memasuki tahun ke 20 dalam hidup. gimana yah kira-kira 5th saya kemudian? Apakah saya akan tersenyum dalam balutan blazer khas seorang pegawai kantoran. Dimana mapan, cemerlang, idaman adalah kata-kata yg cukup pantas menggambarkannya.
Ataukah saya tanpa ekspresi bermalas-malasan disudut kamar membaca tumpukan komik usang masa lalu demi menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, kemudian tinggal mengadahkan tangan kepada orangtua meminta sejumlah dana untuk 'menghibur' seorang kesepian yaitu diri saya sendiri"
Duh option yg kedua jangan sampe kejadian dong : (
Sebenarnya bukan hanya 2 option itu aja sih, tapi ada banyak sekali kemungkinan yg sempat terbesit ketika saya sedang diam, merenung dan sedang 'sadar' seperti saat ini.
Tapi untuk mengutarakannya, nampaknya sulit karena begitu banyak dan begitu abstrak.
(alaah bilang aja males ngetak ngetiknya yakan?)
Balik lagi ke notes eka. Di akhir notesnya ada beberapa kalimat yg saya suka :
"Itulah proses hidup, terus berputar dan harus dijalani".
Setuju, saya setuju!
Hidup eka!
Hidup eka!
emm.. bagi duit dong ka! (loh loh)
Saya jadi ingat di suatu malam, saat sedang menghabiskan waktu bersama sahabat di masa kecil saya, kak hutri namanya..
Di pelataran halaman rumahnya, saat itu saya masih berseragam putih biru.
Kami berdua membicarakan tentang masa depan. Bagaimana keinginan saya untuk dapat berbangga hati mengenakan yellow jacket khas mahasiswa Universitas Indonesia, lalu degup jantung saya terpompa lebih cepat membayangkannya.
Kemudian waktu berputar dan saya sedang duduk di sebuah kelas 11 Ipa 3, berbincang bersama teman-teman seperjuangan saling berdiskusi tentang kampus impian, dan dengan menggebu-gebu saya mengutarakan keinginan untuk menjadi salah satu dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Dan sekarang saya berkaca, dengan almamater hijau tua, berlogo STIE Perbanas.
Yap! inilah saya saat ini. Hahahahah..
Hmm.. mungkin segala angan saya tentang kampus impian itu ga ada yg terwujud.
Tapi saya coba melihat titik terangnya, setidaknya saya masih bisa berbangga hati mengenakan almamater yg menandakan, Alhamdulillah.. saya masih bisa melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa, tingkatan tertinggi dari level pendidikan.
Dan sekarang, saya harus kembali fokus seperti janji saya di awal perkuliahan dimana saya harus lulus setidaknya sesuai prosedur S1 yaitu 4 tahun. Saya punya tanggung jawab selain terhadap kedua orangtua serta pada diri sendiri.
Bolehlah saat ini saya jenuh, saya bimbang memikirkan APA YANG AKAN TERJADI NANTI?
Tapi saya ga boleh terus-terusan terpaku dgn kedua hal tsb. Bisa-bisa saya hanya akan jadi seorang Loser yg jalan ditempat.
Entahlah tentang masa depan.
Mumet, njelimet, bahkan saya malas baca ulang tulisan ini karna banyak kata baku yg terkesan mendikte (tuh kan. jadi mau mu apa sih, nish?)
Tapi setidaknya, nanti saya di masa depan (umm..hallo :D ) bisa melihat rangkaian kata di blog ini entah dengan senyum-senyum dan membatin sendiri :
"apalah kau cakap ni, nish! Macam penulis tak kesampaian saje"
(mengapa jadi melayu begini, datuk? :P )
atau malah berkaca-kaca ku dibuatnya?
Baiklah, Future...
entah bagaimana pun rupa mu nanti..
Yg pasti sekarang saya mau belajar melukis dulu..
Agar nantinya kau semakin indah dikenang..
Annisha
13 Maret 2010 : )
Berkat sebuah Notes di Facebook dari sahabat saya, Ekawati Erprisman, saya jadi terpacu untuk ikut menulis atau lebih tepatnya mencurahkan apa yg ada di benak seorang Annisha yg telah genap 20tahun hidup dan bergumul dengan kehidupan.
Kalau eka menulis tentang flashbacknya 20th kebelakang (ups..saya ga maksut memberi tahu umur mu ya, ka. Upss apa saya malah mempertegas? Hahaha) mmm..saya memilih untuk lebih membicarakan tentang 20th kedepan dengan sedikit menengok kebelakang lah : )
Bukannya saya mau meramal tentang nasib saya sendiri ya, karena saya bukan pembaca masa depan seperti mama laurent ataupun ki joko bodo :P
Jangan kan baca masa depan, untuk bisa membaca karakter diri sendiri saja, susahnya setengah hidup.
Baiklah fokus fokus!. Jadi yg sebenarnya ingin saya bicarakan adalah tentang: "mau jadi apa sih sebenarnya saya ini". Bukan bertransformasi seperti mutan atau sejenisnya ya (oke, garing!)
tapi lebih ke : "hmm..saya sudah memasuki tahun ke 20 dalam hidup. gimana yah kira-kira 5th saya kemudian? Apakah saya akan tersenyum dalam balutan blazer khas seorang pegawai kantoran. Dimana mapan, cemerlang, idaman adalah kata-kata yg cukup pantas menggambarkannya.
Ataukah saya tanpa ekspresi bermalas-malasan disudut kamar membaca tumpukan komik usang masa lalu demi menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, kemudian tinggal mengadahkan tangan kepada orangtua meminta sejumlah dana untuk 'menghibur' seorang kesepian yaitu diri saya sendiri"
Duh option yg kedua jangan sampe kejadian dong : (
Sebenarnya bukan hanya 2 option itu aja sih, tapi ada banyak sekali kemungkinan yg sempat terbesit ketika saya sedang diam, merenung dan sedang 'sadar' seperti saat ini.
Tapi untuk mengutarakannya, nampaknya sulit karena begitu banyak dan begitu abstrak.
(alaah bilang aja males ngetak ngetiknya yakan?)
Balik lagi ke notes eka. Di akhir notesnya ada beberapa kalimat yg saya suka :
"Itulah proses hidup, terus berputar dan harus dijalani".
Setuju, saya setuju!
Hidup eka!
Hidup eka!
emm.. bagi duit dong ka! (loh loh)
Saya jadi ingat di suatu malam, saat sedang menghabiskan waktu bersama sahabat di masa kecil saya, kak hutri namanya..
Di pelataran halaman rumahnya, saat itu saya masih berseragam putih biru.
Kami berdua membicarakan tentang masa depan. Bagaimana keinginan saya untuk dapat berbangga hati mengenakan yellow jacket khas mahasiswa Universitas Indonesia, lalu degup jantung saya terpompa lebih cepat membayangkannya.
Kemudian waktu berputar dan saya sedang duduk di sebuah kelas 11 Ipa 3, berbincang bersama teman-teman seperjuangan saling berdiskusi tentang kampus impian, dan dengan menggebu-gebu saya mengutarakan keinginan untuk menjadi salah satu dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Dan sekarang saya berkaca, dengan almamater hijau tua, berlogo STIE Perbanas.
Yap! inilah saya saat ini. Hahahahah..
Hmm.. mungkin segala angan saya tentang kampus impian itu ga ada yg terwujud.
Tapi saya coba melihat titik terangnya, setidaknya saya masih bisa berbangga hati mengenakan almamater yg menandakan, Alhamdulillah.. saya masih bisa melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa, tingkatan tertinggi dari level pendidikan.
Dan sekarang, saya harus kembali fokus seperti janji saya di awal perkuliahan dimana saya harus lulus setidaknya sesuai prosedur S1 yaitu 4 tahun. Saya punya tanggung jawab selain terhadap kedua orangtua serta pada diri sendiri.
Bolehlah saat ini saya jenuh, saya bimbang memikirkan APA YANG AKAN TERJADI NANTI?
Tapi saya ga boleh terus-terusan terpaku dgn kedua hal tsb. Bisa-bisa saya hanya akan jadi seorang Loser yg jalan ditempat.
Entahlah tentang masa depan.
Mumet, njelimet, bahkan saya malas baca ulang tulisan ini karna banyak kata baku yg terkesan mendikte (tuh kan. jadi mau mu apa sih, nish?)
Tapi setidaknya, nanti saya di masa depan (umm..hallo :D ) bisa melihat rangkaian kata di blog ini entah dengan senyum-senyum dan membatin sendiri :
"apalah kau cakap ni, nish! Macam penulis tak kesampaian saje"
(mengapa jadi melayu begini, datuk? :P )
atau malah berkaca-kaca ku dibuatnya?
Baiklah, Future...
entah bagaimana pun rupa mu nanti..
Yg pasti sekarang saya mau belajar melukis dulu..
Agar nantinya kau semakin indah dikenang..
Annisha
13 Maret 2010 : )
10 Maret 2010
lekas dilihat, lekas saya simpan :)
Dia paling benci sayap ayam
entah itu sudah digoreng kering, dibumbui dengan racikan ala kolonel sanders nan menggoda
tak berpengaruh
Dia tetap benci.
Dia tidak romantis
tidak pernah bisa melihat waktu, dimana aku berharap bisa dibuai sejuta kata" asmara
tapi selalu membuat ku terkaget-kaget saat tiba" ia menarik ku untuk berdansa ditengah alunan melodi cayman island, dipenghujung sore sehabis hujan..
Dia setengah mati sangat cuek
tidak pernah tau apa alasan aku tiba-tiba diam dan mengacuhkannya
tapi dia setengah mati melakukan segala cara untuk bisa membuatku kembali tersenyum padanya, walaupun tetap ia tidak tau apa kesalahannya dihari itu
ia tulus berkata: "maafkan aku..aku menyayangimu"
dan aku setengah mati menahan air mata entah kesal atau lega mendengarnya, karna aku juga setengah mati menahan rindu dan ego untuk tidak menggubrisnya seharian penuh
Dia aneh dan menjengkelkan!
selama beberapa waktu aku tahan berjuta perasaan yg bercampur jadi satu, kemudian ku bertemu kembali dengan sosoknya yg bisa dalam hitungan detik membuat rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuh,
dia malah memasang muka konyol
kemudian melingkarkan pengganjal horden ke kepala dan bergaya khas sesosok pahlawan lokal dan berkata dengan suara berat (atau diberat-beratkan): "SAYA..SI BUTA DARI GUA HANTU"
ingin sekali ku jitak kepalanya!
tapi ku malah mendaratkan 1 kecupan dipipinya yg bulat dan kami menghabiskan waktu dengan saling menertawakan diri sendiri.
dalam hati dan pikiran yg teramat konyol, aku bahkan membatin ke diri sendiri: "AKU MAU JADI MONYET YG SETIA PADA SI BUTA. ASAL SELAMA ITU AKU BISA TERUS BERADA DISAMPINGMU"
ternyata kebodohan bisa menjalar rupanya :P
Dia pecinta musik, dan alunan suara, distorsi, reverb, delay, echo dan berbagai istilah asing lainnya untuk aku seorang awam
Dia penikmat Radiohead, Sigur Ros, Explossion in The Sky, Thom Yorke, Heinrich Manuver dan berjuta musisi jenius lainnya
yg membuatku minder akan pengetahuannya yg luas
bahkan ia bisa menjadi sesosok pribadi yg berbeda saat berbicara soal idealisme dalam bermusik
telinganya dapat menangkap dengan baik bunyi-bunyian yg tak terdengar sama sekali bagiku
sementara aku bermain dengan lirik, ia berkonsentrasi dengan instrumen
sungguh kekonyolannya menghilang drastis dikala ia bercengkrama dengan yg namanya musik.
Dia punya bakat alami dalam mendesign
yg membuatku jengkel dan cemburu buta dengan PCnya yg bisa semalaman suntuk beradu pandang dengan kejernihan matanya
tapi dipagi hari setelah melihat satu lagi karya nya sehabis berautis ria dengan adobe, corel, dan sejenisnya,
yg tumbuh malah rasa bangga karna lagi-lagi kutemukan kejeniusannya yg lain :)
Aku memang yg pertama kali menggenggam erat tangannya, merangkul lengannya, mencium pipinya
semua kulakukan ditengah orang banyak
padahal aku pasif dalam mengutarakan ekspresiku dalam mencinta
tapi sungguh, aku bangga memilikinya
Hihihi..aku masih geli sampai detik ini, mengingat tangannya gemetar menyuapiku disudut restoran di pejaten village
"Ini pertama kalinya untukku.." gumamnya
tanpa dia sadari, dia pun menjadi yg pertama dalam banyak hal untukku..
masa depan memang masih gelap, tapi dua senter yg masing-masing kami genggam, akan membimbing kami ke sebuah sumber cahaya yg disebut kebahagiaan
dua senter yg melambangkan harapan itu, kami namakan Aurora dan Alpha..
dua hal yg membuat degup jantung saya berpacu lebih cepat, lebih kuat dan bersemangat menyambut hari esok, lusa, dan esok setelah lusa
disamping seorang Derry Ramadhan, impossible adalah suatu kata yg tidak mungkin
Selalu ada harapan
Harapan ku saat ini
Selalu bersama dengannya, selama mungkin, senyaman mungkin..
Amien :-)
entah itu sudah digoreng kering, dibumbui dengan racikan ala kolonel sanders nan menggoda
tak berpengaruh
Dia tetap benci.
Dia tidak romantis
tidak pernah bisa melihat waktu, dimana aku berharap bisa dibuai sejuta kata" asmara
tapi selalu membuat ku terkaget-kaget saat tiba" ia menarik ku untuk berdansa ditengah alunan melodi cayman island, dipenghujung sore sehabis hujan..
Dia setengah mati sangat cuek
tidak pernah tau apa alasan aku tiba-tiba diam dan mengacuhkannya
tapi dia setengah mati melakukan segala cara untuk bisa membuatku kembali tersenyum padanya, walaupun tetap ia tidak tau apa kesalahannya dihari itu
ia tulus berkata: "maafkan aku..aku menyayangimu"
dan aku setengah mati menahan air mata entah kesal atau lega mendengarnya, karna aku juga setengah mati menahan rindu dan ego untuk tidak menggubrisnya seharian penuh
Dia aneh dan menjengkelkan!
selama beberapa waktu aku tahan berjuta perasaan yg bercampur jadi satu, kemudian ku bertemu kembali dengan sosoknya yg bisa dalam hitungan detik membuat rasa nyaman menjalar ke seluruh tubuh,
dia malah memasang muka konyol
kemudian melingkarkan pengganjal horden ke kepala dan bergaya khas sesosok pahlawan lokal dan berkata dengan suara berat (atau diberat-beratkan): "SAYA..SI BUTA DARI GUA HANTU"
ingin sekali ku jitak kepalanya!
tapi ku malah mendaratkan 1 kecupan dipipinya yg bulat dan kami menghabiskan waktu dengan saling menertawakan diri sendiri.
dalam hati dan pikiran yg teramat konyol, aku bahkan membatin ke diri sendiri: "AKU MAU JADI MONYET YG SETIA PADA SI BUTA. ASAL SELAMA ITU AKU BISA TERUS BERADA DISAMPINGMU"
ternyata kebodohan bisa menjalar rupanya :P
Dia pecinta musik, dan alunan suara, distorsi, reverb, delay, echo dan berbagai istilah asing lainnya untuk aku seorang awam
Dia penikmat Radiohead, Sigur Ros, Explossion in The Sky, Thom Yorke, Heinrich Manuver dan berjuta musisi jenius lainnya
yg membuatku minder akan pengetahuannya yg luas
bahkan ia bisa menjadi sesosok pribadi yg berbeda saat berbicara soal idealisme dalam bermusik
telinganya dapat menangkap dengan baik bunyi-bunyian yg tak terdengar sama sekali bagiku
sementara aku bermain dengan lirik, ia berkonsentrasi dengan instrumen
sungguh kekonyolannya menghilang drastis dikala ia bercengkrama dengan yg namanya musik.
Dia punya bakat alami dalam mendesign
yg membuatku jengkel dan cemburu buta dengan PCnya yg bisa semalaman suntuk beradu pandang dengan kejernihan matanya
tapi dipagi hari setelah melihat satu lagi karya nya sehabis berautis ria dengan adobe, corel, dan sejenisnya,
yg tumbuh malah rasa bangga karna lagi-lagi kutemukan kejeniusannya yg lain :)
Aku memang yg pertama kali menggenggam erat tangannya, merangkul lengannya, mencium pipinya
semua kulakukan ditengah orang banyak
padahal aku pasif dalam mengutarakan ekspresiku dalam mencinta
tapi sungguh, aku bangga memilikinya
Hihihi..aku masih geli sampai detik ini, mengingat tangannya gemetar menyuapiku disudut restoran di pejaten village
"Ini pertama kalinya untukku.." gumamnya
tanpa dia sadari, dia pun menjadi yg pertama dalam banyak hal untukku..
masa depan memang masih gelap, tapi dua senter yg masing-masing kami genggam, akan membimbing kami ke sebuah sumber cahaya yg disebut kebahagiaan
dua senter yg melambangkan harapan itu, kami namakan Aurora dan Alpha..
dua hal yg membuat degup jantung saya berpacu lebih cepat, lebih kuat dan bersemangat menyambut hari esok, lusa, dan esok setelah lusa
disamping seorang Derry Ramadhan, impossible adalah suatu kata yg tidak mungkin
Selalu ada harapan
Harapan ku saat ini
Selalu bersama dengannya, selama mungkin, senyaman mungkin..
Amien :-)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
