13 Maret 2010

dan kita bicara tentang suatu masa..


Halo semua!

Berkat sebuah Notes di Facebook dari sahabat saya, Ekawati Erprisman, saya jadi terpacu untuk ikut menulis atau lebih tepatnya mencurahkan apa yg ada di benak seorang Annisha yg telah genap 20tahun hidup dan bergumul dengan kehidupan.

Kalau eka menulis tentang flashbacknya 20th kebelakang (ups..saya ga maksut memberi tahu umur mu ya, ka. Upss apa saya malah mempertegas? Hahaha) mmm..saya memilih untuk lebih membicarakan tentang 20th kedepan dengan sedikit menengok kebelakang lah : )

Bukannya saya mau meramal tentang nasib saya sendiri ya, karena saya bukan pembaca masa depan seperti mama laurent ataupun ki joko bodo :P
Jangan kan baca masa depan, untuk bisa membaca karakter diri sendiri saja, susahnya setengah hidup.

Baiklah fokus fokus!. Jadi yg sebenarnya ingin saya bicarakan adalah tentang: "mau jadi apa sih sebenarnya saya ini". Bukan bertransformasi seperti mutan atau sejenisnya ya (oke, garing!)
tapi lebih ke : "hmm..saya sudah memasuki tahun ke 20 dalam hidup. gimana yah kira-kira 5th saya kemudian? Apakah saya akan tersenyum dalam balutan blazer khas seorang pegawai kantoran. Dimana mapan, cemerlang, idaman adalah kata-kata yg cukup pantas menggambarkannya.
Ataukah saya tanpa ekspresi bermalas-malasan disudut kamar membaca tumpukan komik usang masa lalu demi menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, kemudian tinggal mengadahkan tangan kepada orangtua meminta sejumlah dana untuk 'menghibur' seorang kesepian yaitu diri saya sendiri"
Duh option yg kedua jangan sampe kejadian dong : (

Sebenarnya bukan hanya 2 option itu aja sih, tapi ada banyak sekali kemungkinan yg sempat terbesit ketika saya sedang diam, merenung dan sedang 'sadar' seperti saat ini.
Tapi untuk mengutarakannya, nampaknya sulit karena begitu banyak dan begitu abstrak.
(alaah bilang aja males ngetak ngetiknya yakan?)

Balik lagi ke notes eka. Di akhir notesnya ada beberapa kalimat yg saya suka :
"Itulah proses hidup, terus berputar dan harus dijalani".
Setuju, saya setuju!
Hidup eka!
Hidup eka!
emm.. bagi duit dong ka! (loh loh)

Saya jadi ingat di suatu malam, saat sedang menghabiskan waktu bersama sahabat di masa kecil saya, kak hutri namanya..
Di pelataran halaman rumahnya, saat itu saya masih berseragam putih biru.
Kami berdua membicarakan tentang masa depan. Bagaimana keinginan saya untuk dapat berbangga hati mengenakan yellow jacket khas mahasiswa Universitas Indonesia, lalu degup jantung saya terpompa lebih cepat membayangkannya.

Kemudian waktu berputar dan saya sedang duduk di sebuah kelas 11 Ipa 3, berbincang bersama teman-teman seperjuangan saling berdiskusi tentang kampus impian, dan dengan menggebu-gebu saya mengutarakan keinginan untuk menjadi salah satu dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)

Dan sekarang saya berkaca, dengan almamater hijau tua, berlogo STIE Perbanas.
Yap! inilah saya saat ini. Hahahahah..

Hmm.. mungkin segala angan saya tentang kampus impian itu ga ada yg terwujud.
Tapi saya coba melihat titik terangnya, setidaknya saya masih bisa berbangga hati mengenakan almamater yg menandakan, Alhamdulillah.. saya masih bisa melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa, tingkatan tertinggi dari level pendidikan.

Dan sekarang, saya harus kembali fokus seperti janji saya di awal perkuliahan dimana saya harus lulus setidaknya sesuai prosedur S1 yaitu 4 tahun. Saya punya tanggung jawab selain terhadap kedua orangtua serta pada diri sendiri.
Bolehlah saat ini saya jenuh, saya bimbang memikirkan APA YANG AKAN TERJADI NANTI?
Tapi saya ga boleh terus-terusan terpaku dgn kedua hal tsb. Bisa-bisa saya hanya akan jadi seorang Loser yg jalan ditempat.

Entahlah tentang masa depan.
Mumet, njelimet, bahkan saya malas baca ulang tulisan ini karna banyak kata baku yg terkesan mendikte (tuh kan. jadi mau mu apa sih, nish?)

Tapi setidaknya, nanti saya di masa depan (umm..hallo :D ) bisa melihat rangkaian kata di blog ini entah dengan senyum-senyum dan membatin sendiri :
"apalah kau cakap ni, nish! Macam penulis tak kesampaian saje"
(mengapa jadi melayu begini, datuk? :P )

atau malah berkaca-kaca ku dibuatnya?

Baiklah, Future...
entah bagaimana pun rupa mu nanti..
Yg pasti sekarang saya mau belajar melukis dulu..
Agar nantinya kau semakin indah dikenang..

Annisha
13 Maret 2010 : )

1 komentar on "dan kita bicara tentang suatu masa.."

마리암 Pahn on Minggu, 04 April, 2010 mengatakan...

duh nisoy, ternyata kau ini sadar juga tuk pikirkan masa dpn. Aku punya kutipan bagus untukmu:

akan menjadi apa kamu dalam 5 tahun mendatang ditentukan oleh 3 hal; buku yang kamu baca, orang yang kamu temui, dan pilihan yang kamu buat...

heuheu ;)

13 Maret 2010

dan kita bicara tentang suatu masa..

Halo semua!

Berkat sebuah Notes di Facebook dari sahabat saya, Ekawati Erprisman, saya jadi terpacu untuk ikut menulis atau lebih tepatnya mencurahkan apa yg ada di benak seorang Annisha yg telah genap 20tahun hidup dan bergumul dengan kehidupan.

Kalau eka menulis tentang flashbacknya 20th kebelakang (ups..saya ga maksut memberi tahu umur mu ya, ka. Upss apa saya malah mempertegas? Hahaha) mmm..saya memilih untuk lebih membicarakan tentang 20th kedepan dengan sedikit menengok kebelakang lah : )

Bukannya saya mau meramal tentang nasib saya sendiri ya, karena saya bukan pembaca masa depan seperti mama laurent ataupun ki joko bodo :P
Jangan kan baca masa depan, untuk bisa membaca karakter diri sendiri saja, susahnya setengah hidup.

Baiklah fokus fokus!. Jadi yg sebenarnya ingin saya bicarakan adalah tentang: "mau jadi apa sih sebenarnya saya ini". Bukan bertransformasi seperti mutan atau sejenisnya ya (oke, garing!)
tapi lebih ke : "hmm..saya sudah memasuki tahun ke 20 dalam hidup. gimana yah kira-kira 5th saya kemudian? Apakah saya akan tersenyum dalam balutan blazer khas seorang pegawai kantoran. Dimana mapan, cemerlang, idaman adalah kata-kata yg cukup pantas menggambarkannya.
Ataukah saya tanpa ekspresi bermalas-malasan disudut kamar membaca tumpukan komik usang masa lalu demi menghabiskan waktu dengan hal-hal tak berguna, kemudian tinggal mengadahkan tangan kepada orangtua meminta sejumlah dana untuk 'menghibur' seorang kesepian yaitu diri saya sendiri"
Duh option yg kedua jangan sampe kejadian dong : (

Sebenarnya bukan hanya 2 option itu aja sih, tapi ada banyak sekali kemungkinan yg sempat terbesit ketika saya sedang diam, merenung dan sedang 'sadar' seperti saat ini.
Tapi untuk mengutarakannya, nampaknya sulit karena begitu banyak dan begitu abstrak.
(alaah bilang aja males ngetak ngetiknya yakan?)

Balik lagi ke notes eka. Di akhir notesnya ada beberapa kalimat yg saya suka :
"Itulah proses hidup, terus berputar dan harus dijalani".
Setuju, saya setuju!
Hidup eka!
Hidup eka!
emm.. bagi duit dong ka! (loh loh)

Saya jadi ingat di suatu malam, saat sedang menghabiskan waktu bersama sahabat di masa kecil saya, kak hutri namanya..
Di pelataran halaman rumahnya, saat itu saya masih berseragam putih biru.
Kami berdua membicarakan tentang masa depan. Bagaimana keinginan saya untuk dapat berbangga hati mengenakan yellow jacket khas mahasiswa Universitas Indonesia, lalu degup jantung saya terpompa lebih cepat membayangkannya.

Kemudian waktu berputar dan saya sedang duduk di sebuah kelas 11 Ipa 3, berbincang bersama teman-teman seperjuangan saling berdiskusi tentang kampus impian, dan dengan menggebu-gebu saya mengutarakan keinginan untuk menjadi salah satu dari mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)

Dan sekarang saya berkaca, dengan almamater hijau tua, berlogo STIE Perbanas.
Yap! inilah saya saat ini. Hahahahah..

Hmm.. mungkin segala angan saya tentang kampus impian itu ga ada yg terwujud.
Tapi saya coba melihat titik terangnya, setidaknya saya masih bisa berbangga hati mengenakan almamater yg menandakan, Alhamdulillah.. saya masih bisa melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa, tingkatan tertinggi dari level pendidikan.

Dan sekarang, saya harus kembali fokus seperti janji saya di awal perkuliahan dimana saya harus lulus setidaknya sesuai prosedur S1 yaitu 4 tahun. Saya punya tanggung jawab selain terhadap kedua orangtua serta pada diri sendiri.
Bolehlah saat ini saya jenuh, saya bimbang memikirkan APA YANG AKAN TERJADI NANTI?
Tapi saya ga boleh terus-terusan terpaku dgn kedua hal tsb. Bisa-bisa saya hanya akan jadi seorang Loser yg jalan ditempat.

Entahlah tentang masa depan.
Mumet, njelimet, bahkan saya malas baca ulang tulisan ini karna banyak kata baku yg terkesan mendikte (tuh kan. jadi mau mu apa sih, nish?)

Tapi setidaknya, nanti saya di masa depan (umm..hallo :D ) bisa melihat rangkaian kata di blog ini entah dengan senyum-senyum dan membatin sendiri :
"apalah kau cakap ni, nish! Macam penulis tak kesampaian saje"
(mengapa jadi melayu begini, datuk? :P )

atau malah berkaca-kaca ku dibuatnya?

Baiklah, Future...
entah bagaimana pun rupa mu nanti..
Yg pasti sekarang saya mau belajar melukis dulu..
Agar nantinya kau semakin indah dikenang..

Annisha
13 Maret 2010 : )

1 komentar:

마리암 Pahn mengatakan...

duh nisoy, ternyata kau ini sadar juga tuk pikirkan masa dpn. Aku punya kutipan bagus untukmu:

akan menjadi apa kamu dalam 5 tahun mendatang ditentukan oleh 3 hal; buku yang kamu baca, orang yang kamu temui, dan pilihan yang kamu buat...

heuheu ;)